Indonesia Dijajah Belanda 350 Tahun, Benarkah........?

Seringkali kita mendengar, diberitahu, ataupun membaca bahwa “Indonesia telah dijajah 350 tahun oleh belanda.” Namun, sebagai generasi muda Indonesia, patutlah kita bertanya “apakah benar kita telah dijajah Belanda selama 350 tahun?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, mari kita menelusuri jejak sejak 400 tahun silam, tepatnya di tahun 1598. Pada tahun tersebut, Belanda datang pertama kali ke Indonesia di bawah bendera VOC (sebuah institusi perdagangan swasta asal Belanda) dengan maksud untuk berdagang. VOC mencari rempah-rempah yang pada saat itu sangat dicari di dataran Eropa dan sebagai gantinya mereka menawarkan emas dan senjata.

Pada saat itu, masih belum ada Indonesia, yang ada hanyalah kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar luas di seluruh nusantara ini. Karena masyarakat nusantara memang kebanyakan berdarah panas dan suka berperang, dagangan VOC berupa senjata ini sagat laris. Ditambah, VOC menerapkan politik adu domba (divde et impera), jadilah dagangan mereka tersebar luas di seluruh nusantara.
VOC sampai mendirikan kantor-kantor, pabrik-pabrik di seluruh nusantara. Karena pada saat itu hanya VOC yang menjual senjata di nusantara, mereka dapat menjual dengan harga yang sangat tinggi. Raja-raja pun sampai berhutang untuk membayar senjata ini. Bahkan, tidak sedikit yang sampai membayar dengan hak milik tanah mereka.
Lama kelamaan, raja-raja merasa tertipu juga dengan praktek perdagangan VOC, ketidak senangan kepada lembaga dagang ini pun mulai muncul dari bebagai kerajaan di Nusantara. Tidak bisa dihindarkan lagi, muncul serangan radikal dari kerajaan demi kerajaan di nusantara. Dari sini, mulailah VOC membentuk pasukan-pasukan, gua-gua persembunyian, dan benteng-benteng yang kokoh.

Serangan demi serangan yang dilakukan kerajaan-kerajaan seperti perjuangan Kerajaan  Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma di tahun 1628-1629, perjuangan Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1650-1682, Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI dan yang lainnya selalu dapat diatasi oleh VOC. Dengan politik adu dombanya, muda saja VOC mencari sekutu di Nusantara ini. Ya, ini karena dahulu di Nusantara ini masih terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.
Pada awal 1800-an, karena korupsi yang besar-besaran, VOC bangkrut. Semuanya lalu diambil alih oleh pemerintah Belanda. Mereka mengakuisisi wilayah kekuasaan, tanah-tanah, dan pabrik-pabrik yang ada di seluruh nusantara.

Pemerintah Belanda mendirikan Pemerintahan Hindia-Belanda, pemerintahan pertama yang membawahi hampir seluruh wilayah nusantara. Dimana pemerintahan ini membawahi kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dalam memuluskan pemerintahannya, ada timbal balik yang diberikan pemerintahan Hindia Belanda kepada raja-raja dibawahnya seperti pendidikan, jabatan, dan lain-lain.
Namun, tidak sedikit kerajaan-kerajaan yang tidak mau tunduk di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Mereka lalu melakukan perlawanan-perlawanan secara radikal (peperangan) seperti yang dilakukan Pattimura dan masyarakat Ambon di tahun 1817, Diponegoro dan masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta pada tahun 1825-1830, Tuanku Imam Bonjol dan masyarakat Sumatera di tahun 1824-1837, dan masih banyak lagi. Pemerintah Hindia-Belanda pun meladeni perang demi perang yang muncul di daerah kekuasaannya. Pada tahun 1908, dengan berakhirnya perang Aceh, yang ditandai dengan diasingkannya pemimpin pergerakan rakyat Aceh, Cut Nyak Dien, Pemerintahan Hindia Belanda membawahi hampir seluruh wilayang Nusantara.

Belajar dari kesalahan karena melawan pemerintahan Hindia Belanda dengan terpisah pisah, para pemuda-pemudi mulai mencoba metode baru untuk melawan Pemerintahan Hindia Belanda, yaitu membuat perjuangan secara bersama-sama seluruh nusantara. Diawali tahun 1908 juga, berdirilah organisasi nasional pertama yang diprakarsai oleh Dr Sutomo yang bernama Boedi Oetomo (Budi Utomo). Organisasi ini mempelopori organisasi-organisasi nasional lain yang ada di seluruh Nusantara kala itu. Pemuda pemudi pun sanpai membuat deklarasi mereka “Sumpah Pemuda” sebagai tanda persatuan Indonesia sudah melekat di setiap daerah kala itu.

Ditengah-tengah semangat perjuangan nasional yang dilakukan pemuda-pemudi Indonesia kala itu, masuklah pemain baru, Jepang. Mereka masuk ke Indonesia seolah memberi harapan untuk mengusir belanda dari Indonesia. Dari sana, Masyarakat Indonesia bersama Jepang berhasil memukul mundur pemerintahan Hindia Belanda dari Nusantara.
Harapan yang diberikan Jepang di awal ternyata palsu juga. Mereka malah lebih kejam dari Belanda. Selama mereka masih bisa mengeruk kekayaan Indonesia, mereka akan berusaha mati-matian untuk mendapatkannya. Kedepannya, sebenarnya Jepang ingin memberikan pemerintahan Indonesia ini kepada masyarakat pribumu dan menjadikan Indonesia ini negara persemakmurannya. Hal ini terlihat dari pembentukan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang seolah menandakan kemerdekaan Indonesia sudah dekat.

Namun, pada 1945, 3 tahun setelah menguasai Indonesia, Jepang mendapat serangan maut berupa 2 bom atom yang membabat habis Hiroshima dan Nagasaki yang menyebabkan kekalahan mereka dan sekaligus mengakhiri perang dunia II. Kekalahan Jepang di perang dunia 2 ini membuat pemerintahan di Indonesia ini menjadi kacau. Akhirnya Bung Karno dan pejuang-pejuang Indonesia kala itu memberanikan diri mendeklarasikan kemerdekaannya menjadi negara yang berdaulat, Indonesia.

Belanda yang merasa dirugikan dengan banyaknya aset-aset mereka seperti pabrik, tanah, benteng, dan yang lainnya diambil alih dengan paksa oleh pemerintah Indonesia, datang kembali ke Indonesia. Kali ini mereka bukan ingin berdangang, melainkan untuk merebut kembali kekuasaan yang ada di pemerintahan mereka (hindia Belanda) dahulu. Alih-alih jalan damai, mereka kali ini langsung datang dengan cara radikal, agresi militer.

Perselisihan Belanda – Indonesia terus berlanjut. Peristiwa demi peristiwa terus berlangsung seperti Bandung Lautan Api, Peristiwa Ambarawa, Perjuangan Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo mengusir Belanda dan masih banyak lagi yang terjadi di Oktober sampai Desember tahun 1945. Perjanjian dan diplopasi juga terus dilakukan mulai dari Perjanjian Linggarjati, Renville, semua dilakukan untuk mencapai kesepakatan antara kedua pihak. Setelah perjanjian Renville pun Belanda masih melakukan agresi militer II pada 1948. Sampailah pada konferensi Meja Bundar (KMB), disana Belanda sepakat untuk merelakan wilayah mereka di Nusantara beserta segala aset-aset mereka dan menyerahkannya kepada pemerintah Indonesia dengan syarat segala aset yang diberikan kepada Pemerintah Indonesia dibayar lunas. Akhirnya aset-aset ini dibayar Indonesia dengan dicicil dan lunas sejak beberapa tahun yang lalu.

Jadi, menurut anda, Berapa tahun kita dijajah? Dari kapan sampai kapan?
Sebagai penerus bangsa, kita tidak boleh lupa akan sejarah kita sendiri. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, dan pejuang pejuang lainnya memiliki kisah mereka sendiri. Mereka telah menjalani “jalan perang” mereka sendiri dengan pilihan-pilihan mereka dan konsekuensi-konsekuensi yang mereka tanggung sendiri. Kita, masyarakat muda Indonesia, memang tidak bisa menjadi persis seperti mereka. Namun, jejak-jejak perang yang mereka tinggalkan, baik sekali untuk menjadi referensi kita bersama. Referensi untuk menyulam, mengukir, menulis “jalan perang” kita sendiri, karena sebenarnya, jiwa pahlawan sudah ada di dalam diri kita masing-masing. Sekarang tergantung anda, anda ingin menjadi seperti apa? Tentukan pilihan anda dan tanggung segala konsekuensinya. Good Luck!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uju Di Ngoluhon Ma Nian

MATERI ANFIS JANTUNG