AEK SIPITU DAI (AIR TUJUH RASA)





Sumber air alam yang mengalir dari pegunungan Pussuk Buhit ini, merupakan sumber air bersih yang dari tahun ke tahun dengan segala bentuk cuaca tidak pernah mengalami perobahan debit airnya yang cukup deras dan kejernihannya yang sangat bening dan yang paling utama yaitu rasanya yang terdiri dari 7 (tujuh) rasa, mulai dari rasa dan aroma jeruk purut hingga rasa lain yang tidak mampu kita ungkapkan dengan kata-kata ketika kita sedang meminumnya. Hal unik ini terus berlangsung hingga sampai sekarang. Lokasi Air Bersih dengan tujuh rasa ini juga terdapat patung-patung yang menggambarkan bidadari yang sedang mandi di lokasi Mata Air Tujuh Rasa juga terdapat patung pemuda batak yang memegang sebatang bambu tempat mengalirnya mata air tersebut. Sementara di atas loksi penampungan Mata Air Tujuh Rasa Tersebut, terdapat tujuh cawan putih yang disediakan bagi para pengunjung yang hendak berjiarah.
Ke empat lokasi tersebut diatas, sama-sama memiliki legenda yang satu sama lain saling berkaitan perjalanan sejarahnya dengan Pegunungan Pussuk Buhit dan Legenda Awal Penjalanan Si Raja Batak. Ke empat lokasi tersebut berada di daerah Kecamatan Si Anjur Mula-Mula Kabupaten Samosir, pernjalanan dapa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dari Simpang IV Kota Pangururan hingga ke lokasi Rumah Sakti Si Raja Batak, sementara untuk menempuh kawasan Puncak Pussuk Buhit, tentu kita hanya dapa berjalan kaki dengan terlebih dahulu melakukan jiarah ke Batu Sawan guna mendapat doa keselamatan.

Aek Sipitu Dai – Air Tujuh Rasa Ada Di Tanah Batak

Aek sipitu dai, terletak di daerah boho, Limbong (melewati kota pangururan). Jangan takut kesasar, setiap orang bahkan anak-anak setempat pun dapat menunjukkan secara pasti tempatnya. Aek sipitu dai adalah tujuh buah pancuran yang masing-masingnya memiliki rasa yang berbeda-beda. Air yang mengalir di pancuran ini berasal dari 7 buah mata air yang bergabung didalam satu tempat labuan (bak panjang) namun ketika dialirkan ke tujuh pancuran rasanya dapat kembali terpisah. Menurut seorang penjaga tempat ini, setiap orang yang mau masuk kedalamnya (untuk mencuci muka, mandi, ataupun meminum aek sipitu dai ini) haruslah memiliki hati yang bersih (jika tidak pastilah akan ada bala atau sakit penyakit bahkan kematian yang akan melanda). Seram juga rasaku ketika mau memasuki tempat ini. Dan menurut sang penjaga permintaan kita jika diminta dengan hati yang suci akan diberikan (sudah banyak yang memperolehnya tutur sang penjaga). Apa yang aku minta? hmm… aku kesana hanya untuk menghormati leluhurku/nenek moyang ku orang batak.

    

Mual Pansur Sipitu Dai (Pancuran Tujuh Rasa) adalah satu air dengan tujuh buah pancuran yang masing-masing, pancuran mempunyai tujuh sumber mata air, yang masing-masing mengalir sehingga bergabung menjadi satu aliran dalam satu bak yang panjang, kemudian dari bak yang panjang itu dibuat pancuran yang tujuh itu menjadi tujuh macam pula seperti pada sumber mata airnya padahal telah bergabung dalam bak yang panjang.
Air ini disebut “PANSUR SIPITU DAI” (Pansur Tujuh Rasa), karena pancuran yang tujuh itu mempunyai tujuh macam rasa, ketujuh pancuran ini, dibagi menurut status masyarakat yang ada di Limbong yaitu :
1. Pansuran ni dakdanak yaitu tempat mandi bayi yang masih belum ada giginya
2. Pancuran ni sibaso yaitu tempat mandi para ibu yang telah tua, yaitu yang tidak melahirkan lagi
3. Pansuran ni ina-ina yaitu tempat mandi para ibu yang masih dapat melahirkan
4. Pansur ni namarbaju yaitu tempat mandi gadis-gadis
5. Pansur ni pangulu yaitu tempat mandi para raja-raja
6. Pansur ni doli yaitu tempat mandi para lelaki
7. Pansur Hela yaitu tempat mandi para menantu laki-laki yaitu semua marga yang mengawini putri marga Limbong
KEANEHANNYA :
1. Dari tujuh macam rasa yang dari pancuran itu tidak ada satupun seperti rasa air biasa
2. tujuh macam rasa bersumber dari tujuh mata air telah bergabung dalam satu Labuan (Bak Panjang) tetapi anehnya rasa air yang tujuh macam itu, dapat terpisah kembali, sehingga rasa air yang mengalir melalui pancuran yang tujuh itu menjadi tujuh macam rasanya.
3. selama bergabung dalam labuan (bak panjang), rasa lainnya hanya satu macam saja, walaupun sumbernya tujuh macam dan keluarnya tujuh macam
4. apabila air ini diambil dan dibawa ke tempat jauh dan tidak direstui oleh penghuni alam yang ada di tempat itu, maka airnya akan menjadi tawar seperti air biasa.
5. Mandi di pancuran ini, dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
6. apabila ada orang jatuh saat mandi di Pancuran ini, kalau pada saat jatuh kepalanya ke arah hulu, maka ia akan jatuh sakit, tetapi kalau kepalanya ke arah hilir, maka ia akan meninggal dunia.
7. di pancuran ini, orang dapat berdoa kepada Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Mah Esa) memohon kesembuhan, memohon agar murah rejeki dan memohon bermacam keinginan lainnya, dan ternyata sudah banyak orang yang telah berhasil memperolehnya.



LEGENDA BORU SARODING DESA SABULAN
   Mendengar Boru Saroding, mungkin tidak asing lagi bagi sebagian besar warga Bonapasogit yang ada di perantauan apalagi yang tinggal di bonapasogit, legenda yang penuh dengan kesan mistis itu berada di Kecamatan Sitio-Tio Desa Sbulan dan Rassang Bosi. Banyaknya tempat-tempat penuh legenda yang diwarnai kisah misteis versi batak di daerah legenda Boru Saroding ini, menjadikan lokasi ini sering di salah artikan orang yang tidak bertanggung jawab bahkan baru baru ini setelah tragedi longsong yang merengut koraban jiwa sebanyak 4 orang tersebut kembali dihebohkan dengan cerita busuk kisah ikan besar yang nota bene dikabarkan arwah turunan dari dari daerah ini mendatangi warga melalui ikan mati dari Kota Pematang Siantar(baca disini), kabar yang dinilai mencoreng seni budaya dan sejarab batak secara umum ini dan Kecamatan Sitio-Tio secara khusus tersebut memanfaatkan legenda-legenda yang sangat banyk di temukan di desa kecil Kecamatan Sitio-Tio Kab.Samosir desa yang memiliki kawasan hutan lebat dengan kondisi terancam karena dikabarkan dikawasan tersebut sering terjadi pembalakan liar huta yang juga sebagai pelindung bagi Kecamatan Sitiotio sekaligus becana jika nantinya hutan tersebut habis di sikat tangan-tangan tak bertanggung jawab. Perjalanan menuju tempat ini dapat ditempuh dengan menggunakan perahu kecil yang selalu siap sedia setiap saat di Pelabuhan Mogang Kecamatan Palipi.
Kelima objek wisata tersebut diatas, kami kategorikan sebagai objek wisata alam bersejarah yang paling menantang di kawasan Pulau Samosir karena masing-masing objek wisata berada di kawasan pegunungan dengan daya mistis yang sangat besar dan tidak sembarangan untuk di jelajahi, dan dianjurkan agar setiap pengunjung dapat menjaga tatakrama atau sopan santun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uju Di Ngoluhon Ma Nian

MATERI ANFIS JANTUNG